Pengikut

Jumat, 02 Juni 2017

Entah Apa

Kalo biasanya ngomongin orang berkelahi ada anggapan kalo yang benar adalah salah satu pihak, maka menurutku sebenarnya dua-duanya benar. Kenapa gitu? Karna kalo salah satu pihak percaya bahwa lawannya benar, maka mereka ga akan berkelahi. Orang berkelahi karna masing-masing pihak merasa benar. Ya ga sih? Kalo dia merasa lawannya yang benar maka dia ga bakal mempertahankan pendapatnya. Begitu juga sebaliknya.
Lain ceritanya kalo salah satunya berbohong. Maka sudah pasti kalo lawannya lah yang benar. Masalahnya dia berani berbohong karna dia yakin dia bakal menang. Kalo dia sendiri ga percaya sama kemampuannya untuk berbohong ga mungkin dia berani berbohong.
Out of that, intinya kalo bisa jangan berkelahi.

ALIEN

Jadi baru-baru ini aku nonton film fiksi bertemakan makhluk luar angkasa. Ga ingat sih judulnya apa yang jelas tentang alien gitu. Entah kenapa waktu nonton ada yang terlintas di kepalaku. Gimana kalo ternyata sebenarnya makhluk bumilah alien yang sebenarnya?
Gimana kalo (katakan saja memang ada makhluk hidup di planet lain selain bumi) ternyata makhluk hidup yang tinggal di planet lain itu menganggap kita sebaga alien? Was-was dengan teknologi kita yang (dalam bayangan mereka) sudah sangat jauh melampaui mereka? (Seperti kita membayangkan mereka)
Atau gimana kalau mereka membayangkan kita selayaknya monster? (Yaahh, nyatanya emang ga cuma 1 film yang memproduksi cerita alien yang digambarkan sebagai monster)
Ga bisa dipungkiri teknologi kita sebagai bangsa bumi emang udah cukup maju. Dengan adanya pesawat, kereta api, kapal laut, kapal luar angkasa, smartphone, kompor listrik maupun gas, blender, juicer, gojek, vacum cleaner, dan lainnya, wajar kalo teknologi kita bisa dibilang maju.
Bukan ga mungkin kalo mereka berpikir kita bakal menjajah planet mereka. Walaupun tanpa mereka berpikir begitu makhluk bumi emang udah berpikir untuk melakukannya. Karena tak hanya sekali ada isu berhembus tentang kemungkinan untuk tinggal di planet lain. Untuk pindah ke planet lain. Alasannya karena bumi sudah semakin mencapai batas. Karena bumi semakin rusak. Padahal solusi terbaik sebenarnya ya memperbaiki bumi. Mengobatinya, bukan malah meninggalkannya.
Kalo kita meninggalkan planet bumi dan pindah ke planet lain bukan ga mungkin kalo planet baru itu juga bakal rusak trus ditinggalkan juga. Dan itu bakal terus menerus kejadian sampai ikan melahirkan kuda bertanduk emas.
Dan kalo manusia masih terus pengen ninggalin bumi untuk tinggal di planet lain, maka menurutku manusia adalah alien paling serakah.

Minggu, 26 Februari 2017

Drama Menyakiti dan Disakiti

Berbicara tentang hati emang ga ada habisnya. Kalo ditulis, setiap orang pasti bakal punya novel pribadi berisi kisah masing-masing. Terlepas dari itu, banyak yang ga bisa membedakan antara disakiti dan menyakiti.
Beberapa kali terjadi seseorang menyakiti dengan alasan sudah duluan disakiti. Dan menurutku itu omong kosong. Bukan berarti aku ga pernah ngelakuin itu sih, justru aku bisa ngomong gini karena aku udah ngelakuin duluan jadi aku ngerti posisi itu.
Jadi kejadiannya gini. Si Ucok pernah suka setengah mati sama si Butet. Tapi entah si Butet yang ga suka sama si Ucok ato si Butet selingkuh, intinya kemudian si Ucok merasa disakiti sama si Butet. Dan kemudian si Ucok beralih menjadi cowo nakal yang ga setia, suka mainin perasaan, bahkan menjadi tukang coblos. (Yaahhh, maksudnya semua yg berjenis kelamin lawan jenis diajak bobo)
Parahnya si Ucok menyalahkan Butet atas semua tingkah jahatnya. Menurutnya dia jadi jahat karena Butet. Dia jadi playboy karena Butet. Jadi semua kesalahan yang Ucok lakuin sekarang itu semua salah Butet. Dia juga cerita sama temannya kalo ada cewe bernama Butet yang menjadi awal mula kehancuran hidupnya. Dan kalo Ucok komunikasi sama Butet dia ga pernah lupa bilang "aku ngelakuin ini karna kau. Aku jadi jahat gini karna kau. Kau penyebabnya."
Menurutku sih itu pemikiran sampah. sekali lagi ya, S A M P A H.
Aku juga pernah berada di posisi Ucok. Aku suka sama Sinaga, aku merasa dia nyakitin aku, (kayanya sih ga perlu dijelasin gimana caranya dia nyakitin aku karena inti cerita ini ya diSAKITin. Terus aku (berusaha) berubah setelahnya. Aku jadi salah satu cewe yang paling anti dengan kata "setia". Ga percaya sama cowo. Suka mainin perasaan, suka narik ulur. Pokoknya bukan calon pacar yang baik. Dan aku menyalahkan Sinaga atas semua yang kulakuin itu. Yang selalu kutanamkan dalam kepala cuma "aku ga salah. aku ga takut karma karena aku udah duluan kena karma. Aku udah duluan disakiti makanya aku juga berhak menyakiti". Dan sekarang aku sadar kalo yang pernah kupikirkan itu adalah Pemikiran Sampah.
Kenapa sampah? karena kalo jahat ya jahat aja. Ga usah cari kambing hitam, kambing putih, kambing belang, dan kambing-kambing lainnya.
Ucok jadi jahat ya karena Ucok emang jahat. Udah. Selesai. Tamat. End. Gausah cari tameng untuk jadi alasan. Ga usah bawa-bawa si Butet. Emang iya awalnya Butet emang udah salah dengan nyakitin Ucok. Tapi Ucok ga mesti jadi jahat untuk pelampiasan juga kali. Justru seharusnya dia bisa berusaha untuk jadi lebih baik supaya pantas mendapatkan yang lebih baik pula.
Kenapa Ucok jadi Jahat setelah disakitin? Itu karena mental Ucok emang lemah. Dia ga kuat dibanting sekali aja. Ucok ga cocok hidup merantau. Ucok mungkin bahkan seharusnya ga usah sok suka sama orang karena Ucok ga siap menerima rasa sakit.
Jadi intinya kalo jahat ya jahat aja, ga usah cari pembenaran, ga usah cari alasan. Kalo bisa ya tobat, berusaha jadi lebih baik. Jangan jahat lagi.
Terus kalo belum siap menerima rasa sakit ya jangan sok punya rasa suka sama orang. Karena kalo mau suka sama orang ya mesti siap menerima rasa sakit meskipun ga semua hubungan itu berakhir dengan rasa sakit.

Minggu, 05 Februari 2017

Aku Benci

aku benci
aku benci saat kau menanyakan perasaanku namun kau tak mampu mengutarakan perasaanmu
aku benci saat aku tak bisa membaca apakah kau tertarik atau tidak pada topik yang kita bahas

aku benci
aku benci saat aku tak tahu apakah kau benar-benar ingin tahu atau hanya ingin mengisi kekosongan saja saat kau bertanya
aku benci saat kau memancing ingatanku padamu di saat aku hampir tak mengingat bahkan namamu

aku benci
aku benci pada diriku, pada hatiku, yang begitu mudah dipermainkan perasaan
terlebih lagi aku benci hatiku yang begitu mudah kau tarik ulur

Sabtu, 04 Februari 2017

MENYANGKUT NAMA

Kayanya aku emang reinkarnasi kucing. Soalnya keringatku lebih mayoritas keluar dari telapak tangan dan telapak kaki dibanding ketek. Tau kan, kalo kucing itu berkeringat dari telapak kaki dan tangan doang? (ok, aku tau kucing ga punya tangan, tapi mari kita anggap sepasang kaki depan mereka sebagai sepasang tangan)
Dan dengan tingkat kegalauanku yang hampir dikategorikan sebagai akut, jadinya ga salah dong kalau nama blog ini jadinya Si Kucing Galau. *sesekali cari pembenaran diri dikit bolehlah ya. mhehehe
Ga jauh-jauh dari nama blog ini, hidupku emang dipenuhi dengan kegalauan. Galau karena gatau milih yang mana, galau karna apa yang dipengenin ga tercapai, galau karna ga dapat balasan yang diharapkan padahal udah ngusahaain yang terbaik, galau karena hidupku kurasa ga sebaik orang lain, galau karena kenapa ada orang yang ga bisa bedain rendah hati dan rendah diri, pokoknya galau tiada ujung.