Pengikut

Minggu, 26 Februari 2017

Drama Menyakiti dan Disakiti

Berbicara tentang hati emang ga ada habisnya. Kalo ditulis, setiap orang pasti bakal punya novel pribadi berisi kisah masing-masing. Terlepas dari itu, banyak yang ga bisa membedakan antara disakiti dan menyakiti.
Beberapa kali terjadi seseorang menyakiti dengan alasan sudah duluan disakiti. Dan menurutku itu omong kosong. Bukan berarti aku ga pernah ngelakuin itu sih, justru aku bisa ngomong gini karena aku udah ngelakuin duluan jadi aku ngerti posisi itu.
Jadi kejadiannya gini. Si Ucok pernah suka setengah mati sama si Butet. Tapi entah si Butet yang ga suka sama si Ucok ato si Butet selingkuh, intinya kemudian si Ucok merasa disakiti sama si Butet. Dan kemudian si Ucok beralih menjadi cowo nakal yang ga setia, suka mainin perasaan, bahkan menjadi tukang coblos. (Yaahhh, maksudnya semua yg berjenis kelamin lawan jenis diajak bobo)
Parahnya si Ucok menyalahkan Butet atas semua tingkah jahatnya. Menurutnya dia jadi jahat karena Butet. Dia jadi playboy karena Butet. Jadi semua kesalahan yang Ucok lakuin sekarang itu semua salah Butet. Dia juga cerita sama temannya kalo ada cewe bernama Butet yang menjadi awal mula kehancuran hidupnya. Dan kalo Ucok komunikasi sama Butet dia ga pernah lupa bilang "aku ngelakuin ini karna kau. Aku jadi jahat gini karna kau. Kau penyebabnya."
Menurutku sih itu pemikiran sampah. sekali lagi ya, S A M P A H.
Aku juga pernah berada di posisi Ucok. Aku suka sama Sinaga, aku merasa dia nyakitin aku, (kayanya sih ga perlu dijelasin gimana caranya dia nyakitin aku karena inti cerita ini ya diSAKITin. Terus aku (berusaha) berubah setelahnya. Aku jadi salah satu cewe yang paling anti dengan kata "setia". Ga percaya sama cowo. Suka mainin perasaan, suka narik ulur. Pokoknya bukan calon pacar yang baik. Dan aku menyalahkan Sinaga atas semua yang kulakuin itu. Yang selalu kutanamkan dalam kepala cuma "aku ga salah. aku ga takut karma karena aku udah duluan kena karma. Aku udah duluan disakiti makanya aku juga berhak menyakiti". Dan sekarang aku sadar kalo yang pernah kupikirkan itu adalah Pemikiran Sampah.
Kenapa sampah? karena kalo jahat ya jahat aja. Ga usah cari kambing hitam, kambing putih, kambing belang, dan kambing-kambing lainnya.
Ucok jadi jahat ya karena Ucok emang jahat. Udah. Selesai. Tamat. End. Gausah cari tameng untuk jadi alasan. Ga usah bawa-bawa si Butet. Emang iya awalnya Butet emang udah salah dengan nyakitin Ucok. Tapi Ucok ga mesti jadi jahat untuk pelampiasan juga kali. Justru seharusnya dia bisa berusaha untuk jadi lebih baik supaya pantas mendapatkan yang lebih baik pula.
Kenapa Ucok jadi Jahat setelah disakitin? Itu karena mental Ucok emang lemah. Dia ga kuat dibanting sekali aja. Ucok ga cocok hidup merantau. Ucok mungkin bahkan seharusnya ga usah sok suka sama orang karena Ucok ga siap menerima rasa sakit.
Jadi intinya kalo jahat ya jahat aja, ga usah cari pembenaran, ga usah cari alasan. Kalo bisa ya tobat, berusaha jadi lebih baik. Jangan jahat lagi.
Terus kalo belum siap menerima rasa sakit ya jangan sok punya rasa suka sama orang. Karena kalo mau suka sama orang ya mesti siap menerima rasa sakit meskipun ga semua hubungan itu berakhir dengan rasa sakit.

Minggu, 05 Februari 2017

Aku Benci

aku benci
aku benci saat kau menanyakan perasaanku namun kau tak mampu mengutarakan perasaanmu
aku benci saat aku tak bisa membaca apakah kau tertarik atau tidak pada topik yang kita bahas

aku benci
aku benci saat aku tak tahu apakah kau benar-benar ingin tahu atau hanya ingin mengisi kekosongan saja saat kau bertanya
aku benci saat kau memancing ingatanku padamu di saat aku hampir tak mengingat bahkan namamu

aku benci
aku benci pada diriku, pada hatiku, yang begitu mudah dipermainkan perasaan
terlebih lagi aku benci hatiku yang begitu mudah kau tarik ulur

Sabtu, 04 Februari 2017

MENYANGKUT NAMA

Kayanya aku emang reinkarnasi kucing. Soalnya keringatku lebih mayoritas keluar dari telapak tangan dan telapak kaki dibanding ketek. Tau kan, kalo kucing itu berkeringat dari telapak kaki dan tangan doang? (ok, aku tau kucing ga punya tangan, tapi mari kita anggap sepasang kaki depan mereka sebagai sepasang tangan)
Dan dengan tingkat kegalauanku yang hampir dikategorikan sebagai akut, jadinya ga salah dong kalau nama blog ini jadinya Si Kucing Galau. *sesekali cari pembenaran diri dikit bolehlah ya. mhehehe
Ga jauh-jauh dari nama blog ini, hidupku emang dipenuhi dengan kegalauan. Galau karena gatau milih yang mana, galau karna apa yang dipengenin ga tercapai, galau karna ga dapat balasan yang diharapkan padahal udah ngusahaain yang terbaik, galau karena hidupku kurasa ga sebaik orang lain, galau karena kenapa ada orang yang ga bisa bedain rendah hati dan rendah diri, pokoknya galau tiada ujung.