Pengikut

Kamis, 26 Desember 2013

karung mimpi



Tadi malam aku terbangun pagi-pagi buta, tepat pukul 02.30 pagi. And setelah bangun aku sama sekali ga bisa tidur lagi. Padahal di luar lagi hujan deras dan angin pun berhembus begitu kencang. Mana ada suara bedug sama sirene ga jelas gitu lagi. Pokoknya serem banget. Setelah berpikir keras dan memeras otak dalam rangka mencari cara gimana caranya supaya aku bisa tidur lagi, aku pun mulai memutuskan untuk menghitung domba putih lucu ala Shaun The Sheep. Satu domba lompat ke kanan, dua domba lompat ke kanan, tiga domba lompat ke kiri, empat domba lompat ke kanan, dan seterusnya, dan seterusnya. Setelah mencapai angka dua ratus aku mulai bingung. Kok dombanya ada yang lompat ke kanan ada yang lompat ke kiri sih? Trus kenapa dombanya lompat-lompat? Lagi main karet, olahraga, ato sekedar hobi aja? Trus domba yang aku hitung ini sebenarnya domba jantan ato betina? Ato domba banci kali? Berarti kalo banci, dombanya ga bilang “mbeek” dong, pasti dia bilang “neek” gitu, khan itu logat khas banci. Trus domba-domba ini masih single ato jomblo? Btw apa sih bedanya single sama jomblo?
Setelah melalui proses berpikir yang dahsyat dan melelahkan, akhirnya aku memutuskan bahwa  domba-domba itu lompat ke kanan aja biar lebih praktis. Domba-domba tersebut merupakan domba jantan. Kenapa jantan? Soalnya kalo jantan pasti lebih kuat dari pada betina. Kasihan dong kalo yang betina disuruh lompat-lompat lagi, padahal dia harus mengurus anak, membersihkan rumah, memasak,dll. Lho? Domba apa ibu rumah tangga ya? Whateverlah. Trus domba jantan yang melompat-lompat ke kanan ini lompat-lompat karena ini merupakan kewajiban dalam rangka membantu umat manusia agar cepat tidur. Trus domba-domba ini semuanya jomblo karena menurut pengamatanku semua domba ini bentuk dan ukurannya sama. Lagian aku ga tau gimana caranya ngebedain domba jantan sama domba betina, masa harus diintip dulu tititnya supaya tau jenis kelaminnya? Khan ga etis banget tuh, sungguh tidak berperikedombaan. Jangan-jangan habis ngitung domba aku malah dituntut domba ke pengadilan dengan tuduhan pelecehan seksual. Ga keren banget khan?
Setelah mematenkan buah pemikiranku itu aku pun ngelanjutin ngitung domba lagi supaya cepat tidur. 201, 202 ,203, eh, kok makin lama kuping si domba makin panjang sih? Operasi plastik ya? Trus bulunya juga kok jadi lurus? Masa domba juga ngikutin arus jaman dan mulai merebonding dan ngesmoothing bulunya supaya lurus? Sebenarnya yang kuhitung domba ato kelinci sih? Jangan-jangan domba jadi-jadian? Aku mengerahkan tenaga dalamku dan lebih konsentrasi agar kelinci jadi-jadian yang udah kuhitung kembali jadi domba. 204,205,206,207,208,209,210. Kriiiiiiinnnngggg wekerku bunyi. Tepat menunjukkan pukul 06.00 . segera kubunuh si weker. Udah tau orang belum tidur masih juga dibangunin.
Mulai sekarang aku berjanji, kalo misalnya suatu saat aku susah tidur lagi aku ga boleh ngitung domba lagi. Repot dan bikin stress. Bukannya cepat tidur, malah kurang tidur. Dasar domba sialan. Lain kali kalo susah tidur lebih baik aku langsung buka buku kumpulan soal aja. Terutama soal matematika. Pasti aku lebih cepat ngantuk dan tertidur.

temanku



Hari ini aku menjenguk teman akrabku semasa SMA. Si Ocha. Nama aslinya sih Agnes Rosalinda Purba, tapi entah kenapa dia lebih dikenal sebagai Ocha. Mungkin dari Rosalinda trus dipelesetkan jadi Ochalinda kali ya? Kheue kheu khe. Balik ke awal, aku menjenguk dia karena katanya dia diopname karena sakit pinggang. Sakit pinggang kok bisa sampai diopname gitu ya? Emang fantastis luar biasa nih anak. Setelah diinvestigasi, (maksudnya nanya-nanya si Ocha sang pasien) ternyata dia bukan mengidap sakit pinggang biasa, melainkan tulang pinggangnya bengkok karena hobinya bermain basket. Mungkin si kawan ne main basket sambil kayang gitu kali.