Kemarin aku baru saja menonton salah satu film dokumenter karya Joshua Oppenheimer. Senyap. Film yang kudownload secara acak dari internet bermodalkan wifi gratisan. Usai menonton film ini, satu hal yang kurasakan.Kegelisahan yang membingungkan. Aku tak dapat tidur. Bukan. Aku dan keluargaku tidak ada kaitan apa-apa dengan anggota PKI maupun pemberantas PKI.
Awalnya aku juga tak mengerti apa yang menggelisahkanku. Tapi setelah kupikir-pikir, mungkin karena cerita dari sisi yang berbeda dari sejarah yang selama ini kupercaya. Dan bukan hanya itu. Ada satu hal lagi yang mengusikku. Yaitu betapa orang dapat bersikap berbeda 180 derajat dalam seketika atas satu hal. Dan aku benar-benar yakin bahwa hal kedua inilah yang paling menggangguku.
Kenyataan bahwa seseorang dapat membanggakan diri atas hal keji yang diperbuatnya. Dan anaknya maupun temannya, bahkan tetangganya turut merasa bangga mengenalnya. Tapi ketika dihadapkan pada korban perbuatannya sikapnya langsung berubah. Ada yang berubah menjadi sok lemah dan ada yang berubah menjadi sok garang. Dan aku membencinya.Salah satu adegan yang paling kuingat dalam film ini ketika adik korban bertemu dengan anak si pembunuh. Si pembunuh dapat mengingat dengan cukup baik kejadian saat dia melakukan perbuatan kejinya dan anaknya bangga karena ayahnya salah seorang pembunuh (yang katanya) anggota PKI. Tapi saat adik korban mengaku bahwa abangnya adalah salah satu yang dibunuh dengan keji, si anak pelaku tadi terdiam, menelan ludah, meminta maaf, dan sok ramah. Segera mengatakan bahwa sepertinya dia pernah melihat lawan bicaranya tersebut, mengatakan bahwa mulai sekarang mereka bersaudara. Yang paling menggangguku dia segera mengeluh tentang ayahnya. Dikatakannya bahwa ayahnya sekarang sudah lemah, sudah tua, sudah pikun, begitu tak berdaya sampai-sampai dia harus berhenti bekerja untuk merawat dan mengurusi ayahnya, begitu pikun sampai dia tak bisa mengingat apapun dengan baik dan jelas, begitu pikun, renta dan tak berdaya.
Lalu kemana perginya kebanggaan sebagai anaknya yang sempat terucap dari mulutnya sendiri 5 menit lalu?
Kemana perginya cerita sang ayah yang dapat mengingat dan bercerita tentang kejadian di masa lampau itu? (karena sekarang tiba-tiba ayahnya mendadak pikun, lemah dan renta)
Kemudian ada satu lagi. Saat si adik korban menemui salah satu orang yang juga turut terlibat dalam kejadian tahun '65 yang ternyata sekarang sudah menjadi salah satu pejabat pemerintahan daerah. Orang yang awalnya ramah menjawab pertanyaan segera berubah saat penanya mengaku bahwa dia adalah adik dari salah satu korban. Dia berubah menjadi lebih tertutup. Orang yang awalnya dengan bangga mengaku bahwa dia terlibat tiba-tiba menjadi tidak tahu apa-apa. Tidak tahu menahu tentang korban yang satu itu. Tidak berkaitan dengan pembunuhan yang itu.Dan kemudian berbalik bertanya yang sarat dengan ancaman. "apa kamu mau kejadian yang dulu terulang/terjadi lagi?". Dan entah kenapa yang kudengar di telingaku sebagai penonton yang diam adalah "apa kamu juga mau mati seperti abangmu?"
Sungguh keji.
Tidak.
Aku tidak membela adik si korban.
Karena aku juga tidak tahu apakah abangnya memang anggota PKI atau korban fitnah yang terbunuh dengan keji. Aku juga tidak menyalahkan para pelaku karna aku juga tidak tahu apakah yang pernah mereka lakukan pada masa itu murni karena keinginan mereka atau karena mereka berada di bawah tekanan.
Aku hanya menyayangkan sikap para pelaku yang seolah cuci tangan tanpa ada rasa bersalah, rasa bangga mereka karena pernah membunuh sesama mereka manusia. Apakah itu suatu hal yang hebat dan patut dibanggakan? Lalu kenapa mereka seolah-olah seperti siput yang masuk ke rumahnya untuk menyembunyikan dan melindungi diri saat berhadapan dengan saudara dari yang mereka bunuh?
Pihak yang menurutku paling patut disalahkan sebenarnya adalah sosok dibalik semua gerkana itu. Siapakah dia yang dengan hebatnya memunculkan ide untuk membunuhi semua anggota PKI dan semua yang berkaitan dengan PKI itu? Siapakah sosok yang dengan hebatnya dapat memerintahkan orang-orangnya untuk membunuh sesamanya? Siapakah sosok yang dengan cerdiknya mengotaki itu semua tapi dia sendiri tidak terjangkau untuk disalahkan? Siapakah sosok yang begitu kuat sehingga tidak ada yang berani melawan?
Kenapa bukan dia yang bertanggung jawab?
Kenyataan bahwa seseorang dapat membanggakan diri atas hal keji yang diperbuatnya. Dan anaknya maupun temannya, bahkan tetangganya turut merasa bangga mengenalnya. Tapi ketika dihadapkan pada korban perbuatannya sikapnya langsung berubah. Ada yang berubah menjadi sok lemah dan ada yang berubah menjadi sok garang. Dan aku membencinya.Salah satu adegan yang paling kuingat dalam film ini ketika adik korban bertemu dengan anak si pembunuh. Si pembunuh dapat mengingat dengan cukup baik kejadian saat dia melakukan perbuatan kejinya dan anaknya bangga karena ayahnya salah seorang pembunuh (yang katanya) anggota PKI. Tapi saat adik korban mengaku bahwa abangnya adalah salah satu yang dibunuh dengan keji, si anak pelaku tadi terdiam, menelan ludah, meminta maaf, dan sok ramah. Segera mengatakan bahwa sepertinya dia pernah melihat lawan bicaranya tersebut, mengatakan bahwa mulai sekarang mereka bersaudara. Yang paling menggangguku dia segera mengeluh tentang ayahnya. Dikatakannya bahwa ayahnya sekarang sudah lemah, sudah tua, sudah pikun, begitu tak berdaya sampai-sampai dia harus berhenti bekerja untuk merawat dan mengurusi ayahnya, begitu pikun sampai dia tak bisa mengingat apapun dengan baik dan jelas, begitu pikun, renta dan tak berdaya.
Lalu kemana perginya kebanggaan sebagai anaknya yang sempat terucap dari mulutnya sendiri 5 menit lalu?
Kemana perginya cerita sang ayah yang dapat mengingat dan bercerita tentang kejadian di masa lampau itu? (karena sekarang tiba-tiba ayahnya mendadak pikun, lemah dan renta)
Kemudian ada satu lagi. Saat si adik korban menemui salah satu orang yang juga turut terlibat dalam kejadian tahun '65 yang ternyata sekarang sudah menjadi salah satu pejabat pemerintahan daerah. Orang yang awalnya ramah menjawab pertanyaan segera berubah saat penanya mengaku bahwa dia adalah adik dari salah satu korban. Dia berubah menjadi lebih tertutup. Orang yang awalnya dengan bangga mengaku bahwa dia terlibat tiba-tiba menjadi tidak tahu apa-apa. Tidak tahu menahu tentang korban yang satu itu. Tidak berkaitan dengan pembunuhan yang itu.Dan kemudian berbalik bertanya yang sarat dengan ancaman. "apa kamu mau kejadian yang dulu terulang/terjadi lagi?". Dan entah kenapa yang kudengar di telingaku sebagai penonton yang diam adalah "apa kamu juga mau mati seperti abangmu?"
Sungguh keji.
Tidak.
Aku tidak membela adik si korban.
Karena aku juga tidak tahu apakah abangnya memang anggota PKI atau korban fitnah yang terbunuh dengan keji. Aku juga tidak menyalahkan para pelaku karna aku juga tidak tahu apakah yang pernah mereka lakukan pada masa itu murni karena keinginan mereka atau karena mereka berada di bawah tekanan.
Aku hanya menyayangkan sikap para pelaku yang seolah cuci tangan tanpa ada rasa bersalah, rasa bangga mereka karena pernah membunuh sesama mereka manusia. Apakah itu suatu hal yang hebat dan patut dibanggakan? Lalu kenapa mereka seolah-olah seperti siput yang masuk ke rumahnya untuk menyembunyikan dan melindungi diri saat berhadapan dengan saudara dari yang mereka bunuh?
Pihak yang menurutku paling patut disalahkan sebenarnya adalah sosok dibalik semua gerkana itu. Siapakah dia yang dengan hebatnya memunculkan ide untuk membunuhi semua anggota PKI dan semua yang berkaitan dengan PKI itu? Siapakah sosok yang dengan hebatnya dapat memerintahkan orang-orangnya untuk membunuh sesamanya? Siapakah sosok yang dengan cerdiknya mengotaki itu semua tapi dia sendiri tidak terjangkau untuk disalahkan? Siapakah sosok yang begitu kuat sehingga tidak ada yang berani melawan?
Kenapa bukan dia yang bertanggung jawab?





