Jadi aku pernah dekat sama seorang cowo yang , entahlah, aku juga bingung jelasinnya. Aku juga ga sempat tau hubungan kami udah sampe kemana. Dia tipe berjiwa bebas (kayanya), dan benar-benar filosofis sejati (pastinya). Dia ngambil sastra inggris dan berhasil mencuri sebagian kecil hatiku dan membuatku tetap ingat sama dia sampe sekarang.
Sebenarnya awalnya temanku yang sempat naksir sama dia, tapi entah kenapa dia sedikit tidak tertarik sama temanku ini. padahal temanku termasuk cukup populer di kalangan cowo. Suatu malam waktu aku nongkrong bertiga sama temanku, kami ga sengaja ketemu sama cowo ini. Supaya gampang, kita sebut aja namanya Ryan. Temanku benar-benar senang sama kebetulan ini. Ryan pun gabung bareng kita dan ngobrol sampe larut, tapi dia pulang duluan.
Beberapa malam kemudian kami ketemu lagi (ga sengaja lagi). dan kami benar-benar nyambung waktu ngomong. Terasa "klik" aja, gitu.
Malam selanjutnya ternyata Ryan smsan sama temanku tadi, dia minta nomorku (aku tau ini karena temanku ini cerita dengan wajah cemberut) dan temanku ini ga ngasih.
Dua malam kemudian aku nongkrong lagi sama temanku yang lain, and somehow, Ryan ada disana, dia gabung sama kami, dan dia berhasil ngedapetin nomorku dengan cara yang ga biasa dilakuin sama cowo pada umumnya. Ryan benar-benar cowo unik. Kami mulai smsan, telponan, smsan lagi, telponan lagi, rasanya ga pernah ada kata "kehabisan topik" kalo sama dia. Dan dia tetap tertawa ato minimal tersenyum meskipun kata-kataku garing. dan dia juga mengakuinya. "Somehow, aku juga ga ngerti kenapa, aku tetap tertawa meskipun smsmu ga lucu", akunya.
Dia pernah datang, nganterin kerang rebus, tersenyum, tapi langsung pergi dan sama sekali ga matiin mesin motornya. Beberapa waktu kemudian dia datang, tersenyum , dan memberikan sebungkus teh susu ke tanganku. tanpa sepatah kata dan hanya mengelus rambutku, dia pergi. Bahkan saat kuliah aku tak bisa berhenti smsan sama dia, chattingan sama dia, dan pulang kuliah telponan sampe tidur.
Suatu siang dia lagi main ke kosku, kami duduk di teras (kebetulan kamarku ada di lantai 2) , ngobrol panjang lebar, duduk diam sambil tersenyum sendiri, dan saat dia pulang dia meneriakkan kata "Santa, Mahal Kita!!" dari bawah saat aku sedang menatapnya dari teras kamarku. Dengan bodohnya aku menjawab, "apa yang mahal, bang?" tapi dia cuma tersenyum dan berjalan pergi.
Keesokannya aku tanya lagi "yang kemarin itu sebenarnya maksudnya apa, sih?" dan dia bertanya, "emang benar-benar belum pernah dengar kata itu? itu bahasa Tagalog."
"Tagalog itu bahasa negara mana?" kataku.
"Filipina. masa sih belum pernah dengar kata itu?" katanya.
Aku cari di google translate karena benar-benar penasaran , dan ternyata artinya adalah "I LOVE YOU".
Dan aku hanya bisa ngirim emoticon senyum sebagai jawaban. rasanya ga ada masalah di muka bumi ini yg bisa mengganguku dan merusak suasana hatiku saat itu.Dia juga pernah datang dengan motor jaman baheula yang benar-benar pantas masuk museum yang dengan ajaibnya bisa dikendarainya, dan aku benar-benar menyukai mesin berodanya itu. meskipun dia hanya pernah membawanya sekali.
We kept talk, kept touch, sampai tiba saatnya liburan semester. waktunya semua anak kosan untuk pulang ke rumah, ke kampung masing-masing. Bahkan di rumah pun kami tetap ga berhenti berhubungan minimal sejam sekali. smsan, telponan, dan suatu malam dia pernah nyanyi sambil main gitar waktu kami telponan. Lagu yg benar-benar menerbangkanku menembus awan. "to be with you - Mr. Big"
Lagu yang membuatku kerap kali teringat padanya setiap ga sengaja terdengar sekalipun sampai sekarang.
Tapi karena saat itu adalah liburan natal dan tahun baru, otomatis kami sama-sama sibuk karena dia muda-mudi yang cukup aktif di gerejanya, dan begitu pun aku. Dan kampung kami ga bisa dibilang dekat. Aku tinggal di kota wisata, Berastagi, dan dia tinggal di Sumbul, berkilo-kilo meter jauhnya. Dan yang membuatku ga tenang, salah satu muda-mudi di kampungnya adalah mantannya.
Dan kami ga selalu punya pulsa.
Dan semua berlalu gitu aja. Ga ada kata jadian dan ga ada kata putus. Bahagia yang datang secepat halilintar dan rasa hampa yang hadir mengendap-endap. Senyum berganti rindu, dan kami semakin jarang berhubungan. Tak ada lagi saling berbalas sms puitis, saling berbagi lelucon, bahkan mendengar napas saat salah satu ketiduran saat telponan. Berakhir bahkan sebelum dimulai. tanpa kata, tanpa tangis, tanpa ucapan perpisahan, tanpa pertengkaran.
Saat liburan berakhir, kami bahkan tidak saling berusaha untuk bertemu lagi.Dan terkadang aku bahkan tak bisa menahan rinduku, sampai sekarang. Terkadang aku stalk wall fb nya, yang masih tetap masih dipenuhi filosofinya, kata-kata puitisnya, kata-kata anehnya.
Aku merindukannya.
Pengikut
Minggu, 26 Juni 2016
Jumat, 17 Juni 2016
BIRU
Kabut tebal di Berastagi. Iya , aku sekarang lagi di berastagi. dengan tubuh menggigil karena dingin yang ga tanggung.dingin jiwa raga. jadi selain tubuhku, hatiku juga kedinginan. butuh bara api untuk menghangatkan. dingin ini mengingatkanku betapa aku sudah sering kali merasakan nyeri yang membekukan hati. iya. aku galau. dan memang udah seharusnya gitu.
bukan hanya sekali dua kali merasakan kegagalan. dan kegagalan yg paling parah membuatku sedikit tak sanggup untuk menatap tipe cowo putih tinggi berkacamata seperti salah satu personil Yovie & Nuno. bukan, bukan karena aku tipe baper yang susah move on. tapi karena dialah yang paling menyisakan luka di hatiku yang kecil ini.
aku emang ga sebaik cewe-cewe lain yang mungkin cukup setia pada pasangannya. tapi aku juga bukan benar-benar jahat. dan meskipun terkadang aku jahat, bukan karena aku tidak takut pada karma. tetapi karena karmalah yang telah terlebih dulu menghampiriku sebelum aku mulai berubah menjadi jahat.
tapi dia,
dia berbuat seolah-olah aku si jahat yang pantas untuk dijahati hanya karena dia seorang "tergoda".
it just hard to say.
dia punya pacar dan dia menyukaiku.
aku tidak punya pacar tapi ada beberapa yang mendekatiku.
kami saling suka tanpa prinsip.
pacarnya terkenal sebagai gadis nakal.
sementara aku si supel yang sedikit tomboy.
aku pernah sakit hati karena cowo dan punya prinsip "lebih baik jadi yang kedua tapi diutamakan, daripada jadi yang pertama tapi diduakan."
dan dia,
dia benar-benar menjadikanku yang kedua.
tanpa ikatan apa-apa,
tanpa janji apa-apa.
dan meninggalkanku tanpa apa pun.
tidak kecupan singkat di kening,
atau bahkan sepatah kata.
aku menangis di sudut kamar dalam haru biru.
tenggelam.
aku yang tidak pernah menangis karena cowo, dibuatnya menangis.
dan dia tertawa.
aku tidak menyesal pernah dekat dengannya,
tapi aku tak sanggup menahan rasa sakit yang ditinggalkannya.
aku bahkan tidak tau entah dia menyesal pernah sedekat itu denganku.
puas sudah aku menangis dibuatnya.
aku bahkan tak sanggup untuk menatap pria manapun dengan ciri seperti dia.
putih, tinggi, berkacamata, dan sedikit agak kurus.
pria manapun.
aku tenggelam dalam kepura-puraanku move on.
aku benar-benar si kucing galau.
kucing galau yang kedinginan.
bukan hanya sekali dua kali merasakan kegagalan. dan kegagalan yg paling parah membuatku sedikit tak sanggup untuk menatap tipe cowo putih tinggi berkacamata seperti salah satu personil Yovie & Nuno. bukan, bukan karena aku tipe baper yang susah move on. tapi karena dialah yang paling menyisakan luka di hatiku yang kecil ini.
aku emang ga sebaik cewe-cewe lain yang mungkin cukup setia pada pasangannya. tapi aku juga bukan benar-benar jahat. dan meskipun terkadang aku jahat, bukan karena aku tidak takut pada karma. tetapi karena karmalah yang telah terlebih dulu menghampiriku sebelum aku mulai berubah menjadi jahat.
tapi dia,
dia berbuat seolah-olah aku si jahat yang pantas untuk dijahati hanya karena dia seorang "tergoda".
it just hard to say.
dia punya pacar dan dia menyukaiku.
aku tidak punya pacar tapi ada beberapa yang mendekatiku.
kami saling suka tanpa prinsip.
pacarnya terkenal sebagai gadis nakal.
sementara aku si supel yang sedikit tomboy.
aku pernah sakit hati karena cowo dan punya prinsip "lebih baik jadi yang kedua tapi diutamakan, daripada jadi yang pertama tapi diduakan."
dan dia,
dia benar-benar menjadikanku yang kedua.
tanpa ikatan apa-apa,
tanpa janji apa-apa.
dan meninggalkanku tanpa apa pun.
tidak kecupan singkat di kening,
atau bahkan sepatah kata.
aku menangis di sudut kamar dalam haru biru.
tenggelam.
aku yang tidak pernah menangis karena cowo, dibuatnya menangis.
dan dia tertawa.
aku tidak menyesal pernah dekat dengannya,
tapi aku tak sanggup menahan rasa sakit yang ditinggalkannya.
aku bahkan tidak tau entah dia menyesal pernah sedekat itu denganku.
puas sudah aku menangis dibuatnya.
aku bahkan tak sanggup untuk menatap pria manapun dengan ciri seperti dia.
putih, tinggi, berkacamata, dan sedikit agak kurus.
pria manapun.
aku tenggelam dalam kepura-puraanku move on.
aku benar-benar si kucing galau.
kucing galau yang kedinginan.
Kamis, 16 Juni 2016
ke warnet
banyak banget yang pengen kutulis sekarang ini.
tapi ga sempat lagi karna waktunya udah hampir abis.
ini semua karena ngirim cv berhubung si kucing galau lagi nganggur dan sampai sekarang belum dapat kerja padahal aku udah stress setengah hidup.
gatau lagi mo gimana.
apa aku mesti nanam diriku di bawah pohon jeruk purut???
tapi ga sempat lagi karna waktunya udah hampir abis.
ini semua karena ngirim cv berhubung si kucing galau lagi nganggur dan sampai sekarang belum dapat kerja padahal aku udah stress setengah hidup.
gatau lagi mo gimana.
apa aku mesti nanam diriku di bawah pohon jeruk purut???
Kamis, 02 Juni 2016
Meminjam atau Mencuri?
Aku paling malas make barang yang bukan milikku. Bukannya sok atau gimana, menurutku emang lebih baik aja make barang yang biarlah kualitasnya pas-pasan tapi milik sendiri dari pada bela-belain make barang berkualitas hasil minjam. Apalagi kalo minjamnya tanpa ijin pemilik.
Tapi herannya di atas muka bumi ini masih ada aja orang yang suka minjam. Entah itu minjam dengan cara yang baik dan benar ataupun minjam secara tidak baik dan benar.
Dan yang paling nyebelin itu, udah minjam, barang yang dipinjam ga dijaga, dan paling bikin ga habis pikir, si kawan minjamin barang kita sama orang lain. Jadi seolah-olah itu udah barang milik sendiri. Paling parah lagi, udah dia yang minjam, waktu kita butuh sama tuh barang, eh mintanya susahnya minta ampun. Seolah-olah kita yang minjam dari dia.
Jadi contohnya gini, si Udin sama Jono udah berteman semenjak masih sama-sama berbentuk embrio sampe SMA. Suatu hari Udin lagi butuh penghapus sementara Jono punya penghapus kesayangan yang diwariskan dari jaman bapaknya masih SD. Jono selalu ngejaga penghapus itu sebaik-baiknya. makenya juga diirit-irit biar ga cepat abis dan kualitas selalu terjaga. Udin tau klo Jono punya penghapus warisan itu, jadi si Udin berniat minjam penghapus itu. Tapi ternyata Jono ga ngasi karena itu satu-satunya penghapus yang dia punya dan lagian Udin seharusnya ga perlu minjam karena dia orang kaya yang mampu beli satu truk penghapus sekaligus. Dan lagi, Udin udah terkenal klo minjam suka lupa mulangin. Makanya Jono berat buat ngasih pinjam penghapus itu.
tapi udah deh, gausa panjang lebar ngomong kesana kemari tapi ujungnya ga jelas,
INTINYA, kalo kamu minjam barang orang, JANGAN pernah meminjamkan ke orang lain lagi. terutama tanpa ijin pemilik barang. dan kalo kamu niat minjam barang tapi ga dikasi sama yang punya, gausa ngotot deh. karena itu nyebelin banget. ingat, NYEBELIN PAKE BANGET. karena dia pasti punya alasan kenapa ga ngasi kamu minjam. introspeksi diri aja deh.
Tapi herannya di atas muka bumi ini masih ada aja orang yang suka minjam. Entah itu minjam dengan cara yang baik dan benar ataupun minjam secara tidak baik dan benar.
Dan yang paling nyebelin itu, udah minjam, barang yang dipinjam ga dijaga, dan paling bikin ga habis pikir, si kawan minjamin barang kita sama orang lain. Jadi seolah-olah itu udah barang milik sendiri. Paling parah lagi, udah dia yang minjam, waktu kita butuh sama tuh barang, eh mintanya susahnya minta ampun. Seolah-olah kita yang minjam dari dia.
Jadi contohnya gini, si Udin sama Jono udah berteman semenjak masih sama-sama berbentuk embrio sampe SMA. Suatu hari Udin lagi butuh penghapus sementara Jono punya penghapus kesayangan yang diwariskan dari jaman bapaknya masih SD. Jono selalu ngejaga penghapus itu sebaik-baiknya. makenya juga diirit-irit biar ga cepat abis dan kualitas selalu terjaga. Udin tau klo Jono punya penghapus warisan itu, jadi si Udin berniat minjam penghapus itu. Tapi ternyata Jono ga ngasi karena itu satu-satunya penghapus yang dia punya dan lagian Udin seharusnya ga perlu minjam karena dia orang kaya yang mampu beli satu truk penghapus sekaligus. Dan lagi, Udin udah terkenal klo minjam suka lupa mulangin. Makanya Jono berat buat ngasih pinjam penghapus itu.
tapi udah deh, gausa panjang lebar ngomong kesana kemari tapi ujungnya ga jelas,
INTINYA, kalo kamu minjam barang orang, JANGAN pernah meminjamkan ke orang lain lagi. terutama tanpa ijin pemilik barang. dan kalo kamu niat minjam barang tapi ga dikasi sama yang punya, gausa ngotot deh. karena itu nyebelin banget. ingat, NYEBELIN PAKE BANGET. karena dia pasti punya alasan kenapa ga ngasi kamu minjam. introspeksi diri aja deh.
sekarang ini ;(
Sama sekali ga nyangka kalo ternyata nyari kerjaan itu sesulit ini. RALAT. Nyari kerja ga sulit. mendapatkan dan diterima kerja yang sulit. udah hampir 10 bulan ngirim lamaran kemana-mana tapi belum ada yang nerima. WHAT THE.....??????????
Mungkin sebenarnya salahku juga kenapa ga kuliah dengan benar. Jadinya kuliahku terbengkalai dan ngegantung, (ya, kuliahku stuck di semester 5 dan aku belum wisuda sampai sekarang karna aku belum membereskan masalah kuliahku yg entah apa dan kenapa aku ga ngerti), jadinya aku susah banget buat ngedapetin kerja.
sebenarnya aku udah punya beberapa pengalaman kerja dan aku cukup pede dengan itu. tapi entah kenapa kayanya itu ga cukup buat bikin npara pimpinan itu cukup tergiur untuk melirikku sebagai staffnya dia.
adduuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh....................................
stressnya itu udah kaya orang stress yang benar-benar stress.
Mungkin sebenarnya salahku juga kenapa ga kuliah dengan benar. Jadinya kuliahku terbengkalai dan ngegantung, (ya, kuliahku stuck di semester 5 dan aku belum wisuda sampai sekarang karna aku belum membereskan masalah kuliahku yg entah apa dan kenapa aku ga ngerti), jadinya aku susah banget buat ngedapetin kerja.
sebenarnya aku udah punya beberapa pengalaman kerja dan aku cukup pede dengan itu. tapi entah kenapa kayanya itu ga cukup buat bikin npara pimpinan itu cukup tergiur untuk melirikku sebagai staffnya dia.
adduuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh....................................
stressnya itu udah kaya orang stress yang benar-benar stress.
Langganan:
Komentar (Atom)




