Pengikut

Kamis, 16 Oktober 2014

MIRIS



Aku membiarkanmu mendekatiku dan aku mengijinkan dia mengagumiku, namun aku merasa hampa.
Aku meninggalkanmu dan aku melepas dia, namun aku tak merasa apa-apa.
Aku mencoba memanggilmu dan mencoba membuat dia menoleh kembali padaku , namun hatiku tetap merasa kosong.
Kau kembali dan dia kembali tersenyum padaku, namun bibirku membeku tak bisa tersungging.
Aku menyakitimu dan melukai dia, namun tak ada kepuasan.
Kau pergi dan dia berlalu, namun semua terasa hambar.
Kosong.
Hampa.
Hambar.
Kenapa?
Seolah-olah aku menunggu, namun aku tak tahu siapa.
Serasa aku menanti, namun aku tak yakin mengapa.
Aku tak tahu.
Tak mengerti.
Dingin.
Seandainya hatiku memang benar-benar ada, maka yang terasa hanyalah dingin. Sepi. Kosong.
Aku merindukan rengkuhan hangat yang merangkul bahuku. Sepi yang membunuhku. Sepi yang memaksa air mataku mengalir tanpa kutahu pasti apa sebabnya. Sepi yang mengiris setiap sendiku. Tawaku tak mau keluar meski kupaksa. Aku begitu merindukan matahariku yang hangat. Menyingkirkanku dari kegelapan yang sepi dan menyiksaku dalam kesakitan yang dingin.
Sepi.
Aku kesepian.

Selasa, 14 Oktober 2014

Sunny



Aku adalah bunga matahari. Dan kau adalah matahariku. Aku hanya bisa terus menatapmu dari kejauhan, tanpa bisa menyentuhmu, tak mampu meraihmu. Aku selalu mengikutimu, mengarah padamu, namun kau bahkan tak menyadari keberadaanku.
Matahariku yang nun jauh di sana, aku berharap kau sepintas melirikku, meski sekejap. Namun kau terlalu menyilaukan, silau karena dikelilingi pesona yang mengharuskanku memicingkan mata setiap menatapmu. Pesonamu begitu memikatku, membuatku tak bisa berpaling dari cahayamu.
 Aku hanyalah bunga matahari, yang selalu menatapmu, yang selalu menantikanmu, tanpa bisa menyampaikan rasa rinduku padamu. Aku selalu tak sabar menghabiskan malam agar bisa kembali menatapmu saat pagi tiba. Malam yang begitu menyiksaku, dingin tanpa kehadiranmu yang menghangatkan setiap inci tubuhku. Sepi yang memaksaku merintih karena tak bisa melihatmu di dekatku, menemani kesendirianku dalam senyap. Gelap yang meracuniku karena aku begitu merindukan cahayamu dalam pekatnya malam. Malam-malam yang tak pernah terasa tak panjang.
Kau adalah matahari, yang dikelilingi oleh cahaya yang begitu menyilaukan, pesona yang begitu memikat. Kehadiranmu membahagiakan setiap pembuluh darahku. Kehangatanmu menyemangati denyut nadiku. Karenamu siang menjadi saat-saat setiap detik yang membahagiakan, tak lagi suram. Kau adalah matahariku, satu-satunya tempatku menjatuhkan pandanganku. Kau adalah matahariku, satu-satunya arah yang kuikuti. Kau adalah matahariku, yang menyemangatiku dengan sendirinya meski kau tak melakukan apa-apa. Aku hanyalah bunga matahari, yang akan layu bila aku tak bisa melihatmu.
Kau adalah matahari, yang tak menyadari telah menyinari sudut hatiku yang begitu sepi. Kau adalah matahari, yang menegakkan kepalaku dengan sinarmu. Kau adalah matahari, yang membakarku dengan api cemburu setiap kau menyinari kembang yang lain. Kau adalah matahari, yang tanpa melakukan apa pun sudah terlihat menyilaukan. Begitu jauh, tak bisa kuraih, tak bisa kususul. Di setiap mahkotaku tertulis keinginan untuk bisa bersamamu. Di setiap kelopakku tersirat perasaan betapa aku menginginkanmu. Setiap pori-poriku menjerit berteriak ingin menggapaimu. Dan di sini, di hatiku, ada tahta yang telah kusiapkan untukmu. Hanya untukmu. Aku selalu berbisik pada angin yang menggodaku, kuberitahu pada angin bahwa aku hanya milikmu. Tidak untuk yang lain, tidak untuk bulan, tidak untuk bintang, tidak untuk angin, dan tidak untuk hujan.
Tahta ini milikmu. Hati ini milikmu. Dan aku pun milikmu. Namun kau tak bisa kujangkau, tak mampu kuraih. Kau terlalu menyilaukan, terlalu jauh. Cahayamu membutakanku, membakar pori-poriku. Pesonamu menyesakku, karena kau adalah matahari.
Tidakkah kau menyadari keberadaanku? Dalam sepi, dalam sendiri, dalam diam, aku hanya bisa menatapmu tanpa suara. Aku tak bisa meraihmu, maka aku menunggu kau yang menyadari kehadiranku. Aku menunggu matamu melihatku, meski hanya melirik tipis, matahariku. Namun kau selalu berpaling dariku, berpura-pura tak menyadariku. Kau begitu jauh, begitu menyilaukan, matahariku. Kau mengalihkan matamu dariku, matahariku. Aku tak tahu kau menatap apa, menatap kemana, menatap siapa. Kutahu kau selalu menyisihkan sebagian dari sinarmu untukku, untuk menegakkanku, namun kau tak menatapku.
Aku adalah bunga matahari, dan kau adalah matahariku. Aku adalah bunga matahari yang selalu ingin sedikit lebih dekat denganmu, sang matahari. Dan kau adalah matahari yang lebih senang sendiri dari pada bersisian denganku. Selalu di tempatmu, yang begitu jauh, tak bisa kuraih. Memamerkan pesonamu, cahayamu, dan kehangatanmu. Sendirian. Angin menggodaku, hujan menyentuhku, bulan melirikku, bintang menertawakanku. Menertawakan kesetiaanku yang bodoh. Menertawakan penantianku. Namun aku menepis semua itu. Karena aku tahu sejak awal aku telah terpenjara dalam ilusi pelukmu.

Senin, 07 Juli 2014

Si Pagi yang Ngawur

Masih sambil memperkosa wi-fi di tempat teman, memang ga ada yang lebih indah selain mendapatkan gratisan tanpa batas. Muahahaha.....
Posting apa lagi ya?
Oiya, tadi malam mataku sukses ngeronda sampe jam 2 malam. Untungnya hari ini off jadi ada alasan mata buat bayar utang tidur. Sungguh indah tidurku tadi malam. Aku meletakkan badan, memejamkan mata, lalu ga bergerak lagi sampe pagi. Ya benar, aku sukses jadi ubi semalam ini. Kenapa perumpamaannya harus pake ubi? Karna ubi itu ga bisa bergerak. Jadi kenapa ga pake benda ga bergerak lainnya?
Itu..  Itu,,  ehm,,,, pokoknya aku mau pake ubi. Kan aku yang nulis, jadi terserah aku dong. #ngeles
Pagi ini terbangun dengan indahnya. Matahari bersinar cerah membangunkanku memaksa membuka mata. Burung-burung alay beterbangan. Sayapnya bergaya mohawk dan berwarna-warni disertai tindik disana sini. Lalu mulai minta duit dengan setengah mengancam. Kasi uang dong mbak, mendingan kami minta baik-baik dari pada kami nyuri ato malak. Lah ini kenapa bangun tidur udah ketemu alay?
Haduh konsentrasiku mulai buyar karna kupingku selingkuh untuk mendengarkan lagu yang dipasang temanku. Kupingku, tolong kembali padaku, jangan selingkuh, jangan khianati aku. Aku ga bisa tanpamu.
hiks, hiks, hiks. Stress.
Jadi muncul ide nih buat bikin sinetron baru, Judulnya Kuping yang Berkhianat. Jadi ceritanya tu mirip sama The Conjuring gitu deh, trus diselipin adegan menguras air mata seperti adegan joget alay berkolaborasi dengan musik cadas. Pasti asik tuh. 
Haduh kena jitak sama notebook karna pagi-pagi udah ngawur katanya.
Udah dulu ah, aku mau ke pasar. Siapa tau ada yang jual otak bekas dengan kualitas baru dan harga terjangkau.

MEINE FREUNDEN

Malam ini aku posting sambil numpang ngebajak wi-fi di tempatnya temanku. Lumayan dapat gratisan. Muahahaha (ketawa setan).
Mo posting apa ya? Apa ya? Apaaa?????
Btw, beberapa hari ini rasanya moodku kaya minyak goreng tukang gorengan yang lagi menggoreng gorengannya. Iya, panas sekali saudara. Pengen marah aja rasanya. Tapi gatau mau marah karna apa. Bukan, ini bukan karna lagi PMS ato sejenisnya. Btw PMS itu apaan sih?(cengo). Aku mencoba memikirkan apa kira-kira penyebab labilnya suasana hatiku ini. Tapi ga lama kemudian rambut ubur-uburku mulai berasap dan otakku muncrat dari lobang kuping. Oke, aku mengerti kalo otakku lagi gamau kerjasama. (atau emang dasar ga bisa kerja ya?)
Tapi aku sedikit mengerti kalo aku cuma marah sama diri sendiri aja. Aku marah karna aku ga bisa mengabaikan rasa sepi yang menetes dari sudut hati ini. Rasanya sepi ini benar-benar menghimpit dadaku dan menyesakkan pemikiranku. Halah, malah sok puitis jadinya. Tapi emang iya, aku paling gampang kesepian meskipun aku bukan tipe cewe kesepian. Dan yang lebih absurd aku sebenarnya ga terlalu suka berada di tempat yang terlalu rame. Aneh? Emang. Aku ga ngerti sama diriku dan kegalauanku. Makanya kalo ada orang yang tiba-tiba ngaku bisa ngertiin aku, kesimpulannya ada 2:
1.Dia orang paling pintar di dunia setelah semua penemu apa aja.
2.Dia itu sebenarnya alien yang sedang menyamar.
Sadarlah wahai alien, aku bisa saja mengalahkan kalian karena aku adalah Power Rangers yang tertukar. Muahahaha....
Tapi kalo dipikir-pikir aku ini emang dilahirkan dengan sikap yang mirip seperti power rangers. Bukan, bukan karena aku punya kekuatan hebat yang bisa mengalahkan robot-robot raksasa. Tapi karena aku orang yang susah ngapa-ngapain dan diapa-apain kalo ga ada teman. Biasanya sih untuk mendapatkan teman aku akan menggigit leher orang yang kuinginkan dan menularkan bisaku sehingga dia juga menjadi sama sepertiku. Benar sekali saudara. Aku adalah santa cullen alias sikucinggalau sepupu dari sepupu tetangga saudara dari mantan kenalannya Edward Cullen si Vampir maha ga ganteng-ganteng amat itu. Bingung? Aku juga.
Ini kenapa jadi kemana-mana ya?
Hadeh.
Aku mulai berpikir kalo aku aneh.
Tidak, bukan. Aku bukan aneh, tapi aneh banget.
Tapi aku bukan orang aneh biasa. Aku adalah orang aneh luar biasa. Kenapa luar biasa? karna yang biasa udah banyak di pasar. Duh, ngomongin pasar kenapa jadi lapar yak?
Kemana, kemana, kemana?
Postingan ini arahnya kemana?
Kesana kemari semua dibahas, tetapi ujungnya aku tidak tau. Sayang, postingan ini postingan palsu.
(Postingan Palsu- Santa ting ting)
Tadi awalnya apa yak? oh iya, teman. Mungkin aku bukan orng yang baik-baik amat dalam berteman sih, sebenarnya aku baik banget bukan baik amat. Tapi aku punya teman-teman yang emang ,   ....emang,...... ah, gatau deh. Pokonya aku punya teman-teman yang udah lumayan lama mencoba bertahan untuk menjadi temanku. Ini dia orangnya.
Sorry aku ga pintar ngedit. Soalnya di sekolah sihir kami ga diajarin cara ngedit poto yang baik dan benar. Kami berteman semenjak SMA dan rasanya itu manis, asem, asin, rame rasanya.
Tapi sekarang kami terpisah jarak yang lumayan jauh. Ocha(paling atas) bermigrasi ke planet pluto, Intan(nomor 2 dari atas) merasa lebih nyaman kalo tinggal di dekat black hole supaya bisa ilang-ilang timbul, Debora(nomor 2 dari bawah)tetap bermukim di bumi, dan aku (iya itu aku bukan temanku. Kalo yang di poto temanku semua trus aku dimana?) yang terpesona pada matahari.
Ga kok, ga jauh-jauh amat sebenarnya. Kami semua tetap di indonesia Cuma beda pulau aja. Tapi tetap aja, buata pelajar harga tiket itu mahal. Tapi kita tetap menjaga komunikasi supaya kalo ada yang tiba-tiba bikin undangan kita ga kaget. Mhehehe, becanda.

Trus ada satu lagi. Dia berteman sama aku semenjak kelas 3 SD. Kalo diitung-itung sampe sekarang itu udah lama banget! Itu udah berapa taun coba? itu udah..... udah..... udah berapa taun ya? Umurku berapa ya? Namaku siapa? Nama asli pemeran Peter di film Peter Pan itu siapa? Ah, pokoknya lama deh. Udah sekitar 4.380 hari. Mantab. ini wujudnya cewe kebal yang dianugrahi nama Ayu tapi bukan aiu itu.
Gimana , gimana?
rambutku keren khan? iya khan? iya dong, iya aja deh biar cepat. Udah mulai ngantuk soalnya ini.
Udah jam berapa yak? eng,,, Ya ampun, udah mau pagi.
Tidur dulu ah.....

Kamis, 03 Juli 2014

BIBIT BEBET BOBOT

Kayanya ga afdol juga kalao aku cerita ceritu tanpa memperjelaskan asal muasal malin kundang, eh, diriku maksudnya. FYI, aku bukan anak durhaka ato pun sepupu si malin. Pada umumnya sih orang yang baru ngobrol pasti nanyain asal dari teman ngobrolnya ya, nah, ini salah satu pertanyaan yang paling bisa bikin aku susah buat ngejawabnya. Bukan karena aku berasal dari bambu seperti Hello Kitty, bukan. Tapi karena dari lahir aku emang udah berpindah-pindah. Tapi bukan pindah alam juga maksudnya. Aku manusia kok.

 Aku lahir di jawa tengah. Tepatnya di daerah Blora, waktu menginjak balita keluargaku balik ke sumatra tepatnya di sidikalang, =kamu ga tau sidikalang? daerah ini terkenal dengan kopinya= ya balik. Soalnya mamakku asli sidikalang. (mamak=ibu).

Setengah Tahun sebelum masuk SD kami pindah ke Berastagi. =gatau berastagi? entar aja deh aku ceritain. pokoknya ini daerah yang benar-benar subur dan terkenal sebagai penghasil jeruk=.
Tamat SMP di berastagi aku minta masuk asrama di Deli Tua dan dikasih ijin sama mamak.=Deli Tua ini dekat ke Medan. Dan sekarang aku kuliah di Medan. =masa kamu gatau Medan juga sih?=
Berdasalkan kebiasaan hidup nomaden yang cukup membingungkan inilah makanya aku selalu bingung jawab pertanyaan ini :"asalnya dari mana?"

Efek pertanyaan ini ke aku: mulai berpikir keras, kuping mimisan, hidung berbusa, mulut bau ketek.
oke, aku bohong. Ini kenapa jadi takut sendiri ngebayanginnya.

Setelah bertapa lima abad untuk mencari pencerahan maka aku memutuskan 1 jawaban yang pasti setiap kali pertanyaan itu menyerangku. Aku berasal dari BERASTAGI. oke, mantap. Hidungku kembang kempis, kuping ngipas-ngipas, mulut megap-megap. Kok mulai terasa agak aneh ya?

Inilah penampakan kota asalku Berastagi.
  
sebenarnya sih aslinya lebih indah dan adem tentunya. Iya adem soalnya kota ini terletak di dataran tinggi gitu. Apalagi posisinya di tengah antara gunung sibayak dan sinabung. Di berastagi ada juga bukit yang cukup beken dengan nama bukit gundaling.

ini dia:

Dari bukit gundaling ini kita bisa ngeliat kota berastagi. Mau siang ato pun malam ngeliat kota berastagi tetap nyenengin rasanya kalo dari tempat ini. Paling asyik tuh kalo ke puncak dengan jalan kaki. Capeknya ga terlalu berasa kok.
Di kota berastagi juga ada pusat penjualan souvenir yang lebih dikenal dengan pasar buah. Kenapa pasar buah? Karena komoditi dagangan di sana mayoritas adalah buah. souvenir, dan selanjutnya disusul bunga dan bibit tanaman gitu. Di sini juga masih ada penawaran naik kuda. iya, di berastagi masih ada kuda. Banyak. Tapi jangan harap ada yang jual daging kuda loh. Kalo susu kuda sih masih ada yang jual tuh di kaki bukit gundaling. Pokoknya liat aja sisi kanan jalan kalo lagi menuju puncak bukit gundaling. Gede kok tulisan namanya. JUAL SUSU KUDA BERASTAGI ASLI DARI KUDANYA. Kalo ga ketemu juga berarti kamu ga bisa baca ato ga merhatiin jalan.

Kalo kamu datang ke berastagi melalui jalan Jamin Ginting dari arah Medan, maka sebelum mencapai berastagi kamu akan melewati daerah yang dikenal dengan nama Penatapan. Pliss jangan salah baca. Namanya Penatapan bukan Peternakan.
Singgah deh di daerah ini. Dijamin ga bakalan rugi karena di tempat ini kamu bisa makan, minum, pipis, ketawa, push up, jogging, pokoknya kamu singgah disini dan kamu bisa ngeliat air terjun yang posisinya ada di bawah kamu. Jadi berasa lagi ngeliat air terjun Niagara dalam versi lebih kecil gitu deh. Namanya sih Air Terjun Sekulikap.
Kalo dari bawah sih penampakannya jadi gini:



tapi menurut aku sih aslinya lebih menakjubkan.
Apalagi ngeliatnya dari atas alias dari penatapan. Dingin, indah, sejuk berkabut, trus ada jagung hangat. MANTAP.