Aku adalah bunga matahari. Dan kau
adalah matahariku. Aku hanya bisa terus menatapmu dari kejauhan, tanpa bisa
menyentuhmu, tak mampu meraihmu. Aku selalu mengikutimu, mengarah padamu, namun
kau bahkan tak menyadari keberadaanku.
Matahariku yang nun jauh di sana,
aku berharap kau sepintas melirikku, meski sekejap. Namun kau terlalu
menyilaukan, silau karena dikelilingi pesona yang mengharuskanku memicingkan
mata setiap menatapmu. Pesonamu begitu memikatku, membuatku tak bisa berpaling
dari cahayamu.
Aku hanyalah bunga matahari, yang selalu
menatapmu, yang selalu menantikanmu, tanpa bisa menyampaikan rasa rinduku
padamu. Aku selalu tak sabar menghabiskan malam agar bisa kembali menatapmu
saat pagi tiba. Malam yang begitu menyiksaku, dingin tanpa kehadiranmu yang
menghangatkan setiap inci tubuhku. Sepi yang memaksaku merintih karena tak bisa
melihatmu di dekatku, menemani kesendirianku dalam senyap. Gelap yang
meracuniku karena aku begitu merindukan cahayamu dalam pekatnya malam.
Malam-malam yang tak pernah terasa tak panjang.
Kau adalah matahari, yang
dikelilingi oleh cahaya yang begitu menyilaukan, pesona yang begitu memikat.
Kehadiranmu membahagiakan setiap pembuluh darahku. Kehangatanmu menyemangati
denyut nadiku. Karenamu siang menjadi saat-saat setiap detik yang
membahagiakan, tak lagi suram. Kau adalah matahariku, satu-satunya tempatku
menjatuhkan pandanganku. Kau adalah matahariku, satu-satunya arah yang kuikuti.
Kau adalah matahariku, yang menyemangatiku dengan sendirinya meski kau tak
melakukan apa-apa. Aku hanyalah bunga matahari, yang akan layu bila aku tak
bisa melihatmu.
Kau adalah matahari, yang tak
menyadari telah menyinari sudut hatiku yang begitu sepi. Kau adalah matahari,
yang menegakkan kepalaku dengan sinarmu. Kau adalah matahari, yang membakarku
dengan api cemburu setiap kau menyinari kembang yang lain. Kau adalah matahari,
yang tanpa melakukan apa pun sudah terlihat menyilaukan. Begitu jauh, tak bisa
kuraih, tak bisa kususul. Di setiap mahkotaku tertulis keinginan untuk bisa
bersamamu. Di setiap kelopakku tersirat perasaan betapa aku menginginkanmu.
Setiap pori-poriku menjerit berteriak ingin menggapaimu. Dan di sini, di
hatiku, ada tahta yang telah kusiapkan untukmu. Hanya untukmu. Aku selalu
berbisik pada angin yang menggodaku, kuberitahu pada angin bahwa aku hanya
milikmu. Tidak untuk yang lain, tidak untuk bulan, tidak untuk bintang, tidak
untuk angin, dan tidak untuk hujan.
Tahta ini milikmu. Hati ini
milikmu. Dan aku pun milikmu. Namun kau tak bisa kujangkau, tak mampu kuraih.
Kau terlalu menyilaukan, terlalu jauh. Cahayamu membutakanku, membakar
pori-poriku. Pesonamu menyesakku, karena kau adalah matahari.
Tidakkah kau menyadari
keberadaanku? Dalam sepi, dalam sendiri, dalam diam, aku hanya bisa menatapmu
tanpa suara. Aku tak bisa meraihmu, maka aku menunggu kau yang menyadari
kehadiranku. Aku menunggu matamu melihatku, meski hanya melirik tipis,
matahariku. Namun kau selalu berpaling dariku, berpura-pura tak menyadariku.
Kau begitu jauh, begitu menyilaukan, matahariku. Kau mengalihkan matamu dariku,
matahariku. Aku tak tahu kau menatap apa, menatap kemana, menatap siapa. Kutahu
kau selalu menyisihkan sebagian dari sinarmu untukku, untuk menegakkanku, namun
kau tak menatapku.
Aku adalah bunga matahari, dan kau
adalah matahariku. Aku adalah bunga matahari yang selalu ingin sedikit lebih
dekat denganmu, sang matahari. Dan kau adalah matahari yang lebih senang
sendiri dari pada bersisian denganku. Selalu di tempatmu, yang begitu jauh, tak
bisa kuraih. Memamerkan pesonamu, cahayamu, dan kehangatanmu. Sendirian. Angin
menggodaku, hujan menyentuhku, bulan melirikku, bintang menertawakanku.
Menertawakan kesetiaanku yang bodoh. Menertawakan penantianku. Namun aku
menepis semua itu. Karena aku tahu sejak awal aku telah terpenjara dalam ilusi
pelukmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar