Pengikut

Selasa, 14 Oktober 2014

Sunny



Aku adalah bunga matahari. Dan kau adalah matahariku. Aku hanya bisa terus menatapmu dari kejauhan, tanpa bisa menyentuhmu, tak mampu meraihmu. Aku selalu mengikutimu, mengarah padamu, namun kau bahkan tak menyadari keberadaanku.
Matahariku yang nun jauh di sana, aku berharap kau sepintas melirikku, meski sekejap. Namun kau terlalu menyilaukan, silau karena dikelilingi pesona yang mengharuskanku memicingkan mata setiap menatapmu. Pesonamu begitu memikatku, membuatku tak bisa berpaling dari cahayamu.
 Aku hanyalah bunga matahari, yang selalu menatapmu, yang selalu menantikanmu, tanpa bisa menyampaikan rasa rinduku padamu. Aku selalu tak sabar menghabiskan malam agar bisa kembali menatapmu saat pagi tiba. Malam yang begitu menyiksaku, dingin tanpa kehadiranmu yang menghangatkan setiap inci tubuhku. Sepi yang memaksaku merintih karena tak bisa melihatmu di dekatku, menemani kesendirianku dalam senyap. Gelap yang meracuniku karena aku begitu merindukan cahayamu dalam pekatnya malam. Malam-malam yang tak pernah terasa tak panjang.
Kau adalah matahari, yang dikelilingi oleh cahaya yang begitu menyilaukan, pesona yang begitu memikat. Kehadiranmu membahagiakan setiap pembuluh darahku. Kehangatanmu menyemangati denyut nadiku. Karenamu siang menjadi saat-saat setiap detik yang membahagiakan, tak lagi suram. Kau adalah matahariku, satu-satunya tempatku menjatuhkan pandanganku. Kau adalah matahariku, satu-satunya arah yang kuikuti. Kau adalah matahariku, yang menyemangatiku dengan sendirinya meski kau tak melakukan apa-apa. Aku hanyalah bunga matahari, yang akan layu bila aku tak bisa melihatmu.
Kau adalah matahari, yang tak menyadari telah menyinari sudut hatiku yang begitu sepi. Kau adalah matahari, yang menegakkan kepalaku dengan sinarmu. Kau adalah matahari, yang membakarku dengan api cemburu setiap kau menyinari kembang yang lain. Kau adalah matahari, yang tanpa melakukan apa pun sudah terlihat menyilaukan. Begitu jauh, tak bisa kuraih, tak bisa kususul. Di setiap mahkotaku tertulis keinginan untuk bisa bersamamu. Di setiap kelopakku tersirat perasaan betapa aku menginginkanmu. Setiap pori-poriku menjerit berteriak ingin menggapaimu. Dan di sini, di hatiku, ada tahta yang telah kusiapkan untukmu. Hanya untukmu. Aku selalu berbisik pada angin yang menggodaku, kuberitahu pada angin bahwa aku hanya milikmu. Tidak untuk yang lain, tidak untuk bulan, tidak untuk bintang, tidak untuk angin, dan tidak untuk hujan.
Tahta ini milikmu. Hati ini milikmu. Dan aku pun milikmu. Namun kau tak bisa kujangkau, tak mampu kuraih. Kau terlalu menyilaukan, terlalu jauh. Cahayamu membutakanku, membakar pori-poriku. Pesonamu menyesakku, karena kau adalah matahari.
Tidakkah kau menyadari keberadaanku? Dalam sepi, dalam sendiri, dalam diam, aku hanya bisa menatapmu tanpa suara. Aku tak bisa meraihmu, maka aku menunggu kau yang menyadari kehadiranku. Aku menunggu matamu melihatku, meski hanya melirik tipis, matahariku. Namun kau selalu berpaling dariku, berpura-pura tak menyadariku. Kau begitu jauh, begitu menyilaukan, matahariku. Kau mengalihkan matamu dariku, matahariku. Aku tak tahu kau menatap apa, menatap kemana, menatap siapa. Kutahu kau selalu menyisihkan sebagian dari sinarmu untukku, untuk menegakkanku, namun kau tak menatapku.
Aku adalah bunga matahari, dan kau adalah matahariku. Aku adalah bunga matahari yang selalu ingin sedikit lebih dekat denganmu, sang matahari. Dan kau adalah matahari yang lebih senang sendiri dari pada bersisian denganku. Selalu di tempatmu, yang begitu jauh, tak bisa kuraih. Memamerkan pesonamu, cahayamu, dan kehangatanmu. Sendirian. Angin menggodaku, hujan menyentuhku, bulan melirikku, bintang menertawakanku. Menertawakan kesetiaanku yang bodoh. Menertawakan penantianku. Namun aku menepis semua itu. Karena aku tahu sejak awal aku telah terpenjara dalam ilusi pelukmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar